KOMUNITAS

Jakseli Teman Gowesnya Pencinta Sepeda Lipat

Yuni Yuli Yanti
Senin 09 Maret 2020 / 15:48

Jakarta: Berawal dari rasa kesepian saat bersepeda di malam hari, Phang Arianton, ketua sekaligus founder Jakarta Sepeda Lipat (Jakseli) berinisiasi untuk mencari teman gowesnya dengan membentuk sebuah komunitas. 

Didirikan tahun 2017, Jakseli memiliki tujuan agar para Single Rider (Gowes Sendirian) mendapat teman Gowes barengan di wilayah terdekatnya masing-masing. Dalam program podcast The Community di PodMe.id, Phang menuturkan awal mula dibuatnya komunitas Jakseli adalah melalui grup di Facebook. 

Menurutnya, baru seminggu dibuat grup tersebut, anggotanya sudah mencapai ratusan. Lalu, ia pun mulai beralih membuat grup di Whatsapp. Dari situlah ia mulai mendapat banyak teman setiap kali mau bersepeda. 

"Anggota di grup whatsapp itu awalnya cuma 3 orang, terus nambah jadi 50 dan sekarang udah sampai ratusan. Lalu, pas mau gowes info aja di grup itu dapet deh temen gowes. Jadwal gowes kita biasanya ada 2 waktu yaitu minggu pagi dan rabu malamdi sekitaran Jakarta Selatan.  Misalnya, nih rabu malam kita janjian di terowongan BNI city nanti muter ke mana terus berakhir ke Kota Tua, makan terus pulang," kenang Phang. 

embed

(Setiap rabu malam Jakseli berkumpul di terowongan BNI City, Jakarta Pusat. Foto: Dok. Instagram/@jakartasepedalipat)

Membangun Awarness

Phang mengaku saat membentuk Jakseli ia tidak semata-mata hanya mencari teman gowes saja. Melainkan, ada visi dan misi khusus yang ingin ia kembangkan bukan hanya di kumpulan orang-orang pencinta sepeda, tapi juga masyarakat lainnya. 

Ia ingin menjadikan kegiatan bersepeda sebagai hobi yang menyehatkan dan menyenangkan bagi semua orang. Juga menjalin keakraban. Juga, meningkatkan jumlah pemakai sepeda lipat di Jakarta tentunya.  

"Saya ingin saat melihat pengendara sepeda di jalan raya konvoi ramai-ramai, pas orang liat mereka jadi tertarik. Dan, ternyata cara yg saya jalanin cukup efektif. Dari sekian banyak orang yang bergabung digrup itu ya karena pernah lihat ada orang bersepeda lipat berkeliaran di Jakarta. Ada mereka yang mulai pakai sepeda lipat dengan rute yang dekat-dekat. Misal, yang tadinya cuma ke pasar aja sekarang malah jadi aktivitas sehari-hari. Ada satu dua orang itu ke kantor pakai sepeda. Intinya, kita pengen orang mulai beralih dari kendaraan bermotor ke sepeda untuk jarak-jarak yang dekat," jelas Phang. 

Saran untuk pemula 

Menurut Phang, banyak dari masyarakat yang tertarik untuk bersepeda namun terkendala di biaya. Kebanyakan mereka berasumsi kalau sepeda lipat itu pasti harganya mahal. Padahal, tidak demikian lho. 

Ia mengatakan harga sepeda lipat yang dipakai untuk dalam kota itu sekitaran 500 ribu sampai 1 juta rupiah. Dan, sepeda itu sudah sangat cukup untuk kamu yang pakai sepeda lipat dan naik comuuterline juga. Karena di Jakarta konstur jalannya tidak menanjak jadi tidak perlu sepeda lipat dengan harga yang mahal. 

embed

(Phang berharap kegiatan bersepeda sebagai hobi yang menyehatkan dan menyenangkan bagi semua orang. Foto: Dok. Instagram/@jakartasepedalipat)

Phang pun mengajak untuk teman Gaya yang sekiranya ingin bergabung di komunitas Jakseli, selain bisa cari info di media sosial juga bisa datang langsung menemui anggota Jakseli di Sumenep, Jakarta Selatan pada hari minggu pagi.  

Bersepeda adalah hobi yang mengasyikkan. Tapi bisa lebih asyik lagi kalau dilakukan beramai-ramai. Setiap hari minggu, Jakseli kumpul di Sumenep. Ini adalah tempat makan dan ada yang jualan pernak-pernik sepeda. Kebanyakan anggota Jakseli itu nyari jajan pagi-pagi dan pasti berkumpulnya di tukang mie ayam.

Phang berharap agar  semua orang-orang yang merasa kesepian juga saat gowes, bergabunglah ke Jakseli karena selain bisa gowes sama-sama itu lebih aman. Kalian juga dapat pengalaman dan teman baru. 

"Komunitas sepeda itu satu sepeda, berjuta sahabat," Phang Arianton. 


(yyy)