KOMUNITAS

Suara Hati Pekerja Film Dokumenter di Tengah Pandemi Covid-19

Sandra Odilifia
Selasa 14 Juli 2020 / 16:52

Jakarta: Pandemi covid-19 telah memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor industri, mulai dari kesehatan perbankan, teknologi, hingga industri perfilman. Banyak film Indonesia yang sebenarnya sudah lama dinantikan untuk menghiasi layar bioskop tanah air kini terpaksa tertunda penayangannya.

Sehingga, dampak finansial maupun psikologis pun kerap dirasakan oleh para pekerja seni. Termasuk, para pekerja film dokumenter tentunya. Gaya.id mengajak Teman Gaya untuk mendengar kisah perjuangan serta pasang surutnya teman-teman dari Komunitas Pekerja Film Dokumenter menghadapi dampak dari pandemi covid-19 ini. 

Diambil dari penuturan Garin Nugroho, Sutradara Film Dokumenter, Agus Ramdan dari Eagle Institute, dan Jamal Pona dari Komdes Aceh Documentary dalam Podcast Program The Comunity di Podme.id, berikut kisahnya! 

Project yang tertunda

Garin Nugroho mengungkapkan ada sejumlah project yang tertunda akibat pandemi covid-19. Seperti, pertunjukan teater dance yang berkisah tentang manusia harus membawa telor karena tsunami, Setan Jawa di Paris tertunda bulan Mei ini. Festival seni terbesar di Eropa juga tertunda sampai bulan September, dan masih banyak lagi. 

Senada dengan hal itu, beragam project milik Aceh Documentary jugabanyak yang tertunda akibat pandemi. "Jadi, selama beberapa hari malah bukan sehari udah sebulan lebih kita tidak bisa menjalani program itu. Kemudian, teman-teman fokus membuat kegiatan–kegiatan berbasis online. Kita punya channel youtube yang dari 2013 sudah pernah kita bikin dan nggak pernah kita sentuh, karena kondisi kita seperti ini meluangkan waktu banyak untuk kita akhirnya kita bisa ngurus itu channel youtube. Lumayanlah di channel youtube pun sendiri sudah ada beberapa program–program seperti podcast. Kita juga bikin konten zoom dengan teman-teman dokumenter lainnya," jelas Jamal. 

embed

(Menurut Garin, festival dokumenter tidak perlu dikhawatirkan, tetapi harus tetap berjalan. Meskipun, ada beragam masalah dan tantangan. Foto: Ilustrasi. Dok. Unsplash.com)

Festival Online

Meski pandemi tengah merenggut project yang telah direncanakan atau bahakn siap dipertunjukkan, Garin menuturkan ada sejumlah solusi yang bisa dilakukan para pekerja seni film dokumenter. Misalnya, menstransformasi bentuk anggaran dari lembaga–lembaga negara maupun swasta ke bentuk-bentuk pertunjukkan, festival, serta pendidikan yang bersifat publik, sehingga menjadi pertunjukkan yang bersifat online. 

Menurutnya, festival dokumenter tidak perlu dikhawatirkan, tetapi harus tetap berjalan. Meskipun, ada masalah, tantangan shootingnya hanya di halaman rumah kualitas yang kurang bagus di dalam krisis masalah itu akan muncul. Namun, tidak perlu dikhawatirkan justru  bersama mendorong para pengambil keputusan untuk mentranformasi sifat–sifat kerja, tontonan ataupun apapun yang sifatnya publik sekarang diganti menjadi online. 

"Secepatnya dalam beberapa bulan harus dilakukan jika tidak misalnya saya seorang pembikin dokumenter hidup saya dari dokumenter lalu saya mau membikin apa lalu kalau ditanya nanti bikinmu jelek di rumah. Ya memang jelek karena krisis, tidak ada kamu lalu ekonomi tetap bagus kan enggak. Oleh karena itu, harus ada transisi yang sangat berani dari pihak–pihak institusi pemerintah, swasta, pendidikan, atau kebudayaan untuk mengubah kerja publik menjadi kerja yang bersifat online. Dengan administrasi dana, funding, dan pembayaran yang tetep berlaku untuk menghidupi seluruh temen–temen dokumenter atau kesenian lainnya," jelas Garin.  

embed

(Seluruh filmmaker diharapkan agar tetap bisa bekerja walaupun dari rumah dan dalam posisi lockdown atau PSBB, untuk tetap bisa produktif dan kreatif membuat konten–konten menarik selama pandemi. Foto: Ilustrasi. Dok. Unsplash.com)

Gerakan Sosial 

Seperti diketahui, wabah covid-19 ini dirasakan semua elemen masyarakat dan tanpa terkecuali dunia merasakan itu. Agus menurutkan bahwa dirinya mewakili Eagle Institute tergerak hati untuk membuat suatu gerakan sosial demi membantu teman-teman pekerja seni yang terdampak oleh covid-19. 

Ada dua hal yang ingin dilakukan oleh komunitas ini. Yang pertama adalah menggalang donasi untuk disalurkan kepada para pekerja film dokumenter dengan bekerja sama dengan ke salah satu platform namanya Kitabisa.com. Kedua, menggalang karena penyalurannya ada di komunitas.

Jadi, menggalang seluruh filmmaker agar tetap bisa bekerja walaupun dari rumah dan dalam posisi lockdown atau PSBB. Supaya tetap bisa produktif dan kreatif membuat konten–konten yang  bisa membuat pandemi ini menjadi sesuatu hal yang bisa merubah prestektif menjadi positif. 

"Jadi nanti mekanismenya adalah penggalangan dana ditampung oleh platform Kitabisa.com tapi penyalurannya oleh Eagle Institute akan disalurkan kepada para filmmaker baik dari jaringan alumni Eagle Institute maupun kegiatan mereka di luar. Dengan mekanisme yang sudah kita tetapkan lewat aturan main yang kita tetapkan ada di website," tutur Agus. 

Terus Berinovasi

Menurut Garin, masalah krisis ini dialami setiap orang di seluruh dunia. Sehingga, pemecahan masalah itu memerlukan inovasi,  memperkuat jejaring dan saling mendukung baik bersifat donasi, pengetahuan ataupun keterampilan. Selain itu, ia pun menyarankan agar para sineas mencoba berbagai inovasi membuat dokumenter–dokumenter dan menggerakkannya. 

"Yang terakhir adalah para teman-teman dokumenter menggerakkan institusi–institusi funding baik pemerintah swasta untuk melakukan funding dalam suatu gerakan yang bersifat daring. Itu yang sangat penting sekali dalam waktu yang pendek ini karena kreativitas inovasi tanpa dukungan dengan sistem manajemen yang mampu mengikuti situasi krisis itu menjadi persoalan yang besar sekali kan gitu," pungkasnya. 


(yyy)