KOMUNITAS

Studio Batu, Kolektif Seniman Handal yang 'Takut' Tawuran

Sandra Odilifia
Selasa 30 Juni 2020 / 09:31

Jakarta: Mereka menyebut satu sama lain sebagai teman, bahkan keluarga. Sebuah perkumpulan seniman yang bermarkas di Yogyakarta ini membuktikan bahwa Studio Batu adalah kolektif yang kini perlahan membangun orisinalitas dan sangat menjanjikan dalam kancah seni, khususnya seni visual dan sinema, di Indonesia.

Mulai dari karya film, visual teater dan seni pertunjukan lain diproduksi oleh komunitas ini. Bahkan, sejumlah penghargaan pun sudah disabetnya baik lokal maupun internasional. Salah satu yang paling bergengsi adalah Film 'Prenjak' (In the Year of Monkey) terpilih sebagai film pendek terbaik di Semaine de la Critique 2016, Cannes. Wow!

Dilansir dari obrolan sang Insiator Studio Batu, Wulang Sunu bersama dengan penyiar Otong di program The Community dalam podcast PodMe.ID, berikut kutipan perbincangan yang sangat menginspirasi. 

Podme: Halo Mas Wulang, bisa diceritain awal Studio Batu ini terbentuk?

Wulang: Awalnya kita semua itu mayoritas teman SMA di Brito. Nah, semua siswanya kan cowo semua karena engga bisa ngecengi cewe jadi ya kita berkumpul bikin karya. Terus kita awalnya ini juga gara–gara kalo di SMA kan suka tawuran gitu sama musuh sekolah. Nah, kita itu modalnya satu takut. Jadi, kita ini yang takut tawuran ngumpul, hehehe... Nah, dari ngumpul sepulang sekolah itu kita mulai buat karya, pertama gravity, trus sampai ke film. 

Podme: Jadi setelah ngumpul–ngumpul itu udah berapa karya film yang dibentuk oleh studio batu?

Wulang: Karya film itu ada Lembusura, Prenjak, Floatingsopang, Waung, dan satu lagi animasi yang kemaren kolaborasi judulnya 'The Daughters Memory'.  

Podme: Dari sekian film yang dihasilkan, prestasi apa yang sudah diraih Studio Batu dan film apa yang sudah meraih penghargaan? 

Wulang: Kalo prestasi kita senang ternyata beberapa film bisa menyabet juara dan mendapatkan penghargaan film terbaik dikancah internasional. Pertama itu, Prenjak terpilih sebagai film pendek terbaik di Semaine de la Critique 2016, Cannes. Lalu, Lembusura di Festival Dilm Berlin, Jerman. Dan, 'Tak Ada yang Gila' itu istilahnya kita berkolaborasi juga sama Rekata Studio dan Lafide Studio. Itu juga kemarin premiernya di Busan, Korea. 

Podme: Apakah cuma film aja karya–karya yang dihasilkan dari studio batu?

Wulang: Nah itu, itu sebenernya tantangan yang berusaha kita cari jawabannya dengan cara tahun 2017 kemarin kita bikin pemetasan visual. Dari 2017 itu sampai 2019 kemarin udah bikin tiga karya “tiga karya” yang satu pementasan pendek gitu sama Mas Didit Maulana. Jadi kita pengennya enggak cuma film aja karena artinya di belakang ada personil yang memang banckground-nya macem-macem. Ada yang dari musik, sastra, sosiologi, arsitek, dan aku sendiri desain grafis. Kita mikir gimana ya bikin satu karya yang istilahnya bisa memfasilitasi itu atau mengakomodir background–background yang kita punyai. 

Podme: Di 2020 ini ada planning apa nih dari Studio Batu?

Wulang: Mungkin karya pementasan dan film tapi masih direncanakan di buku catatan. Mungkin pertengahan tahun kita mulai, mulai merealisasikan itu satu persatu gitu. 

Podme: Kita tunggu aja nih karya-karya lainnya dari Studio Batu. Mungkin Mas Wulang bisa ngasih pesan buat temen–temen yang ingin terjun ke dunia seni ini?

Wulang: Harus sabar ketika berkomunitas. Kuncinya mungkin sabar. Karena kita menanam sesuatu dan itu juga di dalamnya banyak orang nah itu yang harus kita tunggu, akan tiba saatnya kita bisa memetik hasilnya gitu.

Ditunggu karya-karya menakjubkan lainnya dari Studio Batu!


(yyy)