KOMUNITAS

Buka Jendela Dunia dengan Komunitas Jendela Jakarta

Yuni Yuli Yanti
Selasa 07 Januari 2020 / 17:30

Jakarta: 'Buku adalah jendela dunia'. Tentu kalian sudah tidak asing dengan kata-kata ini bukan? Ya, sebuah kalimat ungkapan ini sering kita dengar dan baca di mana-mana. Terutama di perpustakan sekolah. Tahukah kalian, kalimat inilah yang menjadi filosofi lahirnya sebuah komunitas dengan nama Komunitas Jendela. 

Kak Keni selaku Kepala Program PAUD dari Komunitas Jendela Jakarta berbagi cerita dalam program podcast The Community di PodMe.id. Ia menjelaskan bahwa komunitas Jendela tercetus dari sekumpulan anak muda Yogyakarta yang ingin melakukan sesuatu untuk masyarakat sekitarnya, khususnya untuk anak-anak.

Oleh karena itu, mereka pun memutuskan untuk fokus pada pendidikan alternatif anak melalui perpustakaan. Pilot project-nya di Shelter Gondang 1 Cangkringan Merapi.

Komunitas ini terbentuk sejak tanggal 12 Maret 2011. Seperti halnya fungsi utama sebuah buku sebagai Jendela dunia, komunitas Jendela ada untuk membuka cakrawala anak-anak Indonesia.

embed

(Adik-adik Jendela di Perpus Manggarai saat belajar tentang organ tubuh manusia dan fungsinya dengan kak Bunga Tandi pada 6 Juli 2019. Foto: Dok. Instagram/@jendela.jakarta)

Komunitas Jendela hadir di dalam kehidupan anak-anak untuk membentuk kemandirian belajar mereka, dan Jendela ada untuk muda-mudi Indonesia sebagai wadah untuk membentuk kemampuan leadership mereka melalui berbagi pengetahuan dan kasih sayang untuk teman-teman kecilnya.

Sejak berdiri sembilan tahun silam, kini Komunitas Jendela telah memiliki puluhan relawan dan ratusan anak didik yang tersebar di tujuh kota di Indonesia. Seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Bangka, Malang, Lampung, dan Bengkalis. 

Menurut Kak Keni komunitas Jendela Jakarta dikelola dan digerakkan oleh para relawan yang berasal dari berbagai latarbelakang serta bekerja secara sukarela. "Fokus kegiatan kami pada segi pengembangan pendidikan dan mental anak terutama pada anak-anak yang kurang beruntung  di Manggarai, Sungai Bambu – Sunter, dan Serpong," tuturnya.  

embed

(Para pengurus Komunitas Jendela Jakarta saat mengadakan musyawarah akbar pada 30 Maret 2019 lalu.  Foto: Dok. Instagram/@jendela.jakarta)

Berawal dari Perpustakaan yang sederhana, komunitas ini berusaha menghidupkan minat baca adik-adik agar senantiasa menghargai pentingnya buku untuk menggapai cita-cita mereka. "Beberapa program pembelajaran juga kami berikan seperti; Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS, Seni Musik, Seni Menggambar dan lain-lain. Segala sesuatu yang bermanfaat bisa diajarkan kepada adik-adik di tiga tempat tersebut," tambah Kak Keni. 

Berbagai program diciptakan untuk adik-adik yang turut menjadi peserta di setiap kegiatan komunitas ini. Kak Keni menyebutkan ada beberapa macam diantaranya program reguler, program kakak baca, program tahsin, program praktikum, program one day trip, program kakak asuh, dan program cooking day.

Program reguler adalah kegiatan belajar mengajar untuk adik-adik setiap hari sabtu dan minggu di Manggarai dan hari Minggu di Sungai Bambu dan Serpong. Kegiatan ini berupa penyampaian materi pelajaran sekolah atau pengetahuan umum , keterampilan, prakarya dan olahraga yang disampaikan oleh para relawan.

Kak Keni memaparkan program kakak baca adalah kegiatan pendampingan adik-adik Komunitas Jendela Jakarta dalam mendampingi adik-adik dalam membaca minimal satu bulan satu buku. Tidak hanya itu pendampingan kakak baca juga membantu minat baca adik-adik dan menjadi pendamping adik-adik dalam pengontrolan sikap atau akhlak dari adik bacanya. "Diantara program-program yang tadi disebutkan, cooking day menjadi program yang paling favorit. Mungkin karena anak-anak suka kegiatan masak-memasak ya," ungkapnya. 

"Planning terdekat di tahun 2020 ini kami akan mengadakan Fesbocil di bulan Maret nanti. Kegiatan ini bertujuan untuk mengapresiasi dan menginspirasi anak-anak yang ada di Jabodetabek dan khususnya adik-adik jendela sendiri," tutup Kak Keni. 

RELATED ARTICLE